Langsung ke konten utama

[Resensi] Garis Waktu: Sebuah Upaya Penyembuhan Luka by Fiersa Besari



Sinopsis


Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.


Jika anda mempunyai impian untuk memiliki sebuah mobil mewah atau mobil klasik dengan harga yang sangat terjangkau. Ini dia lelang mobil kpknl jakarta, Jangan sampai ketinggalan!! 

Review

Garis Waktu merupakan buku kedua karya Fiersa Besari yang merangkum beberapa tulisannya pada kurun waktu 2012-2016. Fiersa Besari adalah penulis yang juga aktif sebagai pemain musik, penangkap gerak, dan pegiat alam. Sebelumnya ia pernah merilis album musik berjudul Konspirasi Alam Semesta pada 2015, yang kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk buku pada April 2017 oleh mediakita. Saya mengenal Fiersa lewat tulisan-tulisannya di Twitter beberapa tahun lalu. Tulisan-tulisannya menarik, menyiratkan banyak pesan, dan kadang mewakili apa yang sedang saya alami pun rasakan. Ini kali kedua saya membaca karyanya. Setelah buku ini tidak tersentuh selama satu tahun dan mau tidak mau saya baca ulang, akhirnya empat hari lalu selesai juga. 😀
“Hidup adalah serangkaian kebetulan. ‘Kebetulan’ adalah takdir yang menyamar.” (Hlm. 9)
Buku yang berisi rentetan cerita dengan format kumpulan surat yang terangkai jadi satu ini secara garis besar memuat curahan tentang perjumpaan, kasmaran, patah hati, keikhlasan dalam melepaskan, dan berakhir dengan kenangan. Adalah Aku yang menguraikan perasaan-perasaannya pada Kau dalam bentuk surat dari April tahun pertama sampai Maret tahun kelima. Dari awal berjumpa dan saling tatap hingga tak lagi saling menetapkan. Surat-surat pendek dalam Garis Waktu berjumlah 49 surat yang berisikan segala pertanyaan, kegelisahan, kemarahan, dan perasaan Aku pada seorang perempuan yang telah membuatnya jatuh hati sekaligus patah hati. Dua di antaranya semacam prolog dan epilog.

Dari ke-49 surat tersebut ada dua yang saya suka; surat pada Juni tahun pertama judul kedua yang mengajak (dan mungkin juga menyadarkan) pembaca untuk menjadi diri sendiri dan surat pada bulan September tahun kedua judul pertama yang memuat tentang cinta dan komitmen. Secara keseluruhan ada tiga bab besar dalam Garis Waktu, yaitu pertemuan dengan seseorang yang mengubah hidup, terluka dan kehilangan, serta keinginan untuk kembali ke kenangan tertentu.
“Untuk menjadi jujur, itulah yang sulit. Setidaknya, jujur kepada diri sendiri; melakukan hal-hal yang memang diinginkan oleh hati nurani, meski harus dihina oleh orang lain.” (Hlm. 27)
“Di hidup kita yang cuma satu kali ini, apa perlu membuang waktu dengan mengurusi yang tidak perlu, menghakimi yang kita tidak tahu, dan memusuhi hal yang tidak kita mengerti?” (Hlm. 100)

Ingin brand dan produk Anda dipromosikan oleh influencer di social media? Langsung saja ke l'oréal influencer marketing sekarang juga
Pembaca tidak hanya akan menemukan pesan-pesan tentang percintaan yang tersirat dalam Garis Waktu, tetapi juga pesan untuk menjadi diri sendiri, dalam menjalin sebuah hubungan dengan seseorang, untuk menikmati hidup dan meluangkan waktu melakukan hal yang kita suka karena hidup cuma satu kali, tidak tenggelam dalam kepopuleran, tidak membalas kebencian dengan kebencian, tidak larut dalam dendam, dan lain-lain. Kadang saya merasa tersentil dengan beberapa kalimat yang ditulisnya. Bukan sentilan yang menyebalkan, tetapi sentilan yang mengingatkan.

 Garis Waktu membawa kita menyelami proses sekaligus masa-masa di mana Aku dan Kau menjadi kita. Juga Aku dan Kau yang akhirnya memilih haluan berbeda. Pembaca diajak untuk menyaksikan Aku yang sedang bermonolog. Melihat Aku yang menanti-nanti pesan dari Kau, harapannya telah pupus, penuh kegalauan, penuh dengan kekaguman pada Kau, masih mengagumi meski tak bisa memiliki, memendam perasaannya, menjadi tempat pelarian, berterus terang soal perasaannya, mengalami sebuah pengkhianatan, dan lain-lain—yang kalau saya sebutkan semuanya nanti kepanjangan, menjadi tidak penasaran lagi, dan berujung spoiler.
“Karena entah kau sejauh langit, atau sedekat langit-langit, bagiku kau bintang yang aku puja setengah mati.” (Hlm. 17)
“Cinta terpendam adalah bahasa keheningan dengan hati yang saling menggenggam.” (Hlm. 40)
Fiersa amat lihai mengaduk-aduk perasaan pembaca lewat kalimat-kalimat yang diuntainya. Seolah ia begitu mengerti dan memahami pembaca. Kalimat-kalimat yang ditulisnya terasa hidup dan sangat mewakili seseorang yang, baik sedang jatuh cinta, galau, patah hati, tersakiti karena dikhianati, maupun mampu bangkit dari hal-hal pahit yang menimpanya. Meski kita tahu hal-hal yang dialami Aku pasti pernah pula dialami orang lain, cara setiap orang untuk bangkit dan menyembuhkan lukanya tidaklah sama. Lewat Garis Waktu pembaca bisa mengambil pelajaran dari pengalaman dan apa yang disampaikan Aku.

Bila dibandingkan dengan Konspirasi Alam Semesta, Garis Waktu bisa dibilang memiliki konsep yang berbeda dan alurnya pun hanya satu alur; alur maju. Kelemahannya, alur maju seperti ini untuk sebagian pembaca mungkin membosankan. Saya sendiri pun merasa buku ini kurang gereget dan kurang menarik karena alurnya yang terkesan datar. Sekali waktu membuat rasa bosan datang. Bisa jadi juga karena saya sudah pernah membaca tulisan-tulisannya, entah itu di Twitter, Instagram, ataupun LINE-nya. Menariknya, dalam setiap surat ada foto-foto yang menggambarkan curahan si Aku yang membuat pembaca bisa sekaligus memainkan imajinasinya sendiri.

Liverpool masih kokoh di pemuncak klasemen liga inggris. Sedangkan Chelsea menempuh kemenangan 1 - 0 atas Ajax di liga Champion,  sbobet ada hadiahnya.

Membaca Garis Waktu bisa membuat pembaca bernostalgia ke masa lalu dan terbawa perasaan, atau bahkan mungkin ke masa sekarang bagi yang sedang jatuh cinta, sedang mengharapkan si dia menaruh perasaan yang sama, sedang terluka karena ditolak atau dikhianati, atau sedang memendam perasaan pada seseorang. Tampaknya sebelum membaca Garis Waktu pembaca mesti menegarkan diri dulu kalau tidak ingin lama-lama tenggelam dalam masa lalu. Bukan apa-apa, cuma takutnya nanti susah balik. *eh, gimana* Tanpa membaca Garis Waktu saja kadang-kadang kita bisa tiba-tiba teringat dan hanyut dalam masa lalu. Ya, ‘kan? Lebih-lebih kalau sambil baca buku ini dan belum move on. Bagi kamu yang sedang ingin membaca bacaan yang ringan atau sedang butuh bacaan yang menguatkan, Garis Waktu bisa jadi pilihan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis Bumi Manusia, Film Adaptasi Novel Pramoedya

Novel ini berisikan sebuah cerita tentang perlawanan kaum pribumi melawan kolonialisme belanda. Cerita ini bermula saat pribumi bernama Minke pemuda pribumi putra seorang bupati yang berkesempatan menempuh pendidikan di H.B.S merupakan salah satu siswa yang pandai. Karakter minke adalah pribumi yang cerdas dan berani melawan penindasan terhadap dirinya. Ia diperolok temannya karena kulitnya berbeda dengan temannya keturunan belanda. Minke sangat mengagungkan eropa dan melupakan budayanya karena merasa eropa jauh lebih baik dalam segala hal. Minke diajak temannya berkunjung ke Wonokromo sebuah perusahaan dan perkebunan tebu milik Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh dipaksa menikah orang tuannya kepada orang belanda, dan dijadikan gundiknya. Awalnya Nyai Ontosoroh menolak dan benci kepada sang suami (Tuan Mellema). Namun seiring berjalannya waktu Tuan Mellema ternyata sangat saying pada Nyai Ontosoroh. Dari sang suami pula Nyai Ontosoroh belajar tentang perusahaan hingga benar-ben...

[Buku] Review Novel Hujan Karya Tere Liye

Tentang persahabatan Tentang cinta Tentang perpisahan Tentang melupakan Tentang hujan *** Lail, perumpuan berusia 21 tahun mengunjungi dokter syaraf untuk mengapus ingatan yang menyakitkannya. Sebelum proses dilakukan, dokter memerlukan peta syaraf darinya. Dengan teknologi mutakhir, peta syarat pun mulai dibentuk saat Lail menceritakan kejadian-kejadian yang ia alami. Peta syaraf itu memiliki warna tersendiri yang menggambarkan keadaan bahagia atau menyedihkan . Jika anda mempunyai impian untuk memiliki sebuah mobil mewah atau mobil klasik dengan harga yang sangat terjangkau maka tempatnya hanya ada di lelang mobil pajero jakarta   Cerita berawal ketika Lail bertemu dengan Esok 8 tahun silam kala usianya 13 tahun. Esok seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang membantu Lail menyelamatkan diri dari reruntuhan tangga kereta bawah tanah saat terjadinya bencana gunung purba meletus yang disusul gempa bumi. Lail melewati masa-masa sulit bersama Esok di pengungsian...

Sinopsis Novel Dilan tahun 1990 serta Unsur Instrinsik, Resensi

Sinopsis Novel Dilan tahun 1990 serta Unsur Instrinsik, Resensi   Cover novel Dilan Sinopsis novel dilan-  Dia adalah Dilanku Tahun 1990 edisi 1 berwarna biru muda dengan tokoh Dilan dan sepeda motornya yang dijadikan covernya.  Nah, gambar Dilan yang menggunakan seragam SMA dengan gaya yang sangat santai  yang terletak di Cover diilustrasikan sendiri  oleh sang penulis Pidi Baiq. Gambar yang terdapat di cover menjadi ciri dari isi novel yang menggambarkan kehidupan remaja. Dibawah gambar Dilan tercantum quotes Pidi Baiq menambah kesan menarik bagi sampulnya. Identitas buku Judul                        : Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Penulis                     : Pidi Baiq Penerbit                   : Pastel Books Genre                   ...