![[Resensi] Garis Waktu: Sebuah Upaya Penyembuhan Luka by Fiersa Besari](https://coretanlauna.files.wordpress.com/2017/12/img_20171216_152305.jpg?w=816&h=9999)
Sinopsis
Pada sebuah
garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan
satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.
Maka,
ikhlaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan
dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang
menyakitimu secara perlahan.
Jika anda mempunyai impian untuk memiliki sebuah mobil mewah atau mobil klasik dengan harga yang sangat terjangkau. Ini dia lelang mobil kpknl jakarta, Jangan sampai ketinggalan!!
Review
Garis Waktu merupakan buku kedua karya Fiersa Besari
yang merangkum beberapa tulisannya pada kurun waktu 2012-2016. Fiersa
Besari adalah penulis yang juga aktif sebagai pemain musik, penangkap
gerak, dan pegiat alam. Sebelumnya ia pernah merilis album musik
berjudul Konspirasi Alam Semesta pada 2015, yang kemudian
dilahirkan kembali dalam bentuk buku pada April 2017 oleh mediakita.
Saya mengenal Fiersa lewat tulisan-tulisannya di Twitter beberapa tahun
lalu. Tulisan-tulisannya menarik, menyiratkan banyak pesan, dan kadang
mewakili apa yang sedang saya alami pun rasakan. Ini kali kedua saya
membaca karyanya. Setelah buku ini tidak tersentuh selama satu tahun dan
mau tidak mau saya baca ulang, akhirnya empat hari lalu selesai juga.
😀
“Hidup adalah serangkaian kebetulan. ‘Kebetulan’ adalah takdir yang menyamar.” (Hlm. 9)
Buku yang
berisi rentetan cerita dengan format kumpulan surat yang terangkai jadi
satu ini secara garis besar memuat curahan tentang perjumpaan, kasmaran,
patah hati, keikhlasan dalam melepaskan, dan berakhir dengan kenangan.
Adalah Aku yang menguraikan perasaan-perasaannya pada Kau dalam bentuk
surat dari April tahun pertama sampai Maret tahun kelima. Dari awal
berjumpa dan saling tatap hingga tak lagi saling menetapkan. Surat-surat
pendek dalam Garis Waktu
berjumlah 49 surat yang berisikan segala pertanyaan, kegelisahan,
kemarahan, dan perasaan Aku pada seorang perempuan yang telah membuatnya
jatuh hati sekaligus patah hati. Dua di antaranya semacam prolog dan
epilog.
Dari ke-49
surat tersebut ada dua yang saya suka; surat pada Juni tahun pertama
judul kedua yang mengajak (dan mungkin juga menyadarkan) pembaca untuk
menjadi diri sendiri dan surat pada bulan September tahun kedua judul
pertama yang memuat tentang cinta dan komitmen. Secara keseluruhan ada
tiga bab besar dalam Garis Waktu, yaitu pertemuan dengan
seseorang yang mengubah hidup, terluka dan kehilangan, serta keinginan
untuk kembali ke kenangan tertentu.
“Untuk menjadi jujur, itulah yang sulit. Setidaknya, jujur kepada diri sendiri; melakukan hal-hal yang memang diinginkan oleh hati nurani, meski harus dihina oleh orang lain.” (Hlm. 27)“Di hidup kita yang cuma satu kali ini, apa perlu membuang waktu dengan mengurusi yang tidak perlu, menghakimi yang kita tidak tahu, dan memusuhi hal yang tidak kita mengerti?” (Hlm. 100)
Ingin brand dan produk Anda dipromosikan oleh influencer di social media? Langsung saja ke l'oréal influencer marketing sekarang juga
Pembaca tidak hanya akan menemukan pesan-pesan tentang percintaan yang tersirat dalam Garis Waktu,
tetapi juga pesan untuk menjadi diri sendiri, dalam menjalin sebuah
hubungan dengan seseorang, untuk menikmati hidup dan meluangkan waktu
melakukan hal yang kita suka karena hidup cuma satu kali, tidak
tenggelam dalam kepopuleran, tidak membalas kebencian dengan kebencian,
tidak larut dalam dendam, dan lain-lain. Kadang saya merasa tersentil
dengan beberapa kalimat yang ditulisnya. Bukan sentilan yang
menyebalkan, tetapi sentilan yang mengingatkan.
Garis Waktu
membawa kita menyelami proses sekaligus masa-masa di mana Aku dan Kau
menjadi kita. Juga Aku dan Kau yang akhirnya memilih haluan berbeda.
Pembaca diajak untuk menyaksikan Aku yang sedang bermonolog. Melihat Aku
yang menanti-nanti pesan dari Kau, harapannya telah pupus, penuh
kegalauan, penuh dengan kekaguman pada Kau, masih mengagumi meski tak
bisa memiliki, memendam perasaannya, menjadi tempat pelarian, berterus
terang soal perasaannya, mengalami sebuah pengkhianatan, dan
lain-lain—yang kalau saya sebutkan semuanya nanti kepanjangan, menjadi
tidak penasaran lagi, dan berujung spoiler.
“Karena entah kau sejauh langit, atau sedekat langit-langit, bagiku kau bintang yang aku puja setengah mati.” (Hlm. 17)“Cinta terpendam adalah bahasa keheningan dengan hati yang saling menggenggam.” (Hlm. 40)
Fiersa amat
lihai mengaduk-aduk perasaan pembaca lewat kalimat-kalimat yang
diuntainya. Seolah ia begitu mengerti dan memahami pembaca.
Kalimat-kalimat yang ditulisnya terasa hidup dan sangat mewakili
seseorang yang, baik sedang jatuh cinta, galau, patah hati, tersakiti
karena dikhianati, maupun mampu bangkit dari hal-hal pahit yang
menimpanya. Meski kita tahu hal-hal yang dialami Aku pasti pernah pula
dialami orang lain, cara setiap orang untuk bangkit dan menyembuhkan
lukanya tidaklah sama. Lewat Garis Waktu pembaca bisa mengambil pelajaran dari pengalaman dan apa yang disampaikan Aku.
Bila dibandingkan dengan Konspirasi Alam Semesta, Garis Waktu bisa
dibilang memiliki konsep yang berbeda dan alurnya pun hanya satu alur;
alur maju. Kelemahannya, alur maju seperti ini untuk sebagian pembaca
mungkin membosankan. Saya sendiri pun merasa buku ini kurang gereget dan
kurang menarik karena alurnya yang terkesan datar. Sekali waktu membuat
rasa bosan datang. Bisa jadi juga karena saya sudah pernah membaca
tulisan-tulisannya, entah itu di Twitter, Instagram, ataupun LINE-nya.
Menariknya, dalam setiap surat ada foto-foto yang menggambarkan curahan
si Aku yang membuat pembaca bisa sekaligus memainkan imajinasinya
sendiri.
Liverpool masih kokoh di pemuncak klasemen liga inggris. Sedangkan Chelsea menempuh kemenangan 1 - 0 atas Ajax di liga Champion, sbobet ada hadiahnya.
Membaca Garis Waktu
bisa membuat pembaca bernostalgia ke masa lalu dan terbawa perasaan,
atau bahkan mungkin ke masa sekarang bagi yang sedang jatuh cinta,
sedang mengharapkan si dia menaruh perasaan yang sama, sedang terluka
karena ditolak atau dikhianati, atau sedang memendam perasaan pada
seseorang. Tampaknya sebelum membaca Garis Waktu pembaca mesti
menegarkan diri dulu kalau tidak ingin lama-lama tenggelam dalam masa
lalu. Bukan apa-apa, cuma takutnya nanti susah balik. *eh, gimana* Tanpa
membaca Garis Waktu saja kadang-kadang kita bisa tiba-tiba
teringat dan hanyut dalam masa lalu. Ya, ‘kan? Lebih-lebih kalau sambil
baca buku ini dan belum move on. Bagi kamu yang sedang ingin membaca bacaan yang ringan atau sedang butuh bacaan yang menguatkan, Garis Waktu bisa jadi pilihan.
Komentar
Posting Komentar